Postingan

Tak Pernah Sampai

Sabtu malam di bulan Februari 2018. Isa mengajaku pergi ke tempat makan langganan kami, Nasi Goreng Pak Li namanya.  Tepat di depan komplek perumahan Isa. Kami memesan satu nasi goreng pedas dan dua gelas air es. Isa tidak bermaksud untuk menambahkan bumbu romantisme pada hubungan kami. Isa bilang ‘Nasi goreng disini mahal, jadi cuma beli satu’. Setelah itu, aku mengangguk percaya tanpa meminta penjelasan. Tapi, sekarang aku tahu bahwa ucapan Isa benar-benar tidak terbukti. Pada satu waktu, ketika aku sendirian berkunjung memesan satu porsi nasi goreng pedas. Yang datang nasi goreng pedas berukuran standard. Satu sisi bibirku terangkat keatas, memikirkan ‘Apalagi kalau bukan disebut romantis?’. * * *  Aku memilih untuk kembali ke kantor. Memang begitu rencana awalnya. Keluar membeli milkshake, lalu lanjut bekerja. Pertemuan tidak terduga dengan Isa membuatku tambah kesal. Aku seharusnya tidak bersikap seperti tadi. 'Kenapa tangan gue seolah nyambut dia? lo harusnya udah jadi c...

Prolog: Tak Pernah Sampai

2024 adalah tahun perubahan. Tahun di mana segala informasi bisa didapat melalui internet. Tahun di mana segala aktivitas bisa dilakukan melalui ponsel. Bisa belajar dengan tetap di rumah, bisa bekerja dengan pakaian casual dan tentu belum mandi. Berbeda denganku, 2024 adalah tahun sibuk. Sebagai pegawai baru, aku harus menunjukan performa terbaik-ku. Bukan untuk pencitraan, melainkan mencoba untuk menikmati pekerjaan yang didambakan sejak menempati bangku sekolahan. Aku seorang pegawai bank yang duduk di kursi pemasaran.  Ditengah-tengah menumpuknya video yang masih berantakan. Sejenak, aku mengambil nafas dalam. Untuk mengeluh. Tenggorokanku kering tapi tidak sariwan. 'Ah, gue butuh milkshake strawberry' aku meracau mengusap wajahku, lalu bergegas mematikan komputer yang sebelumnya sudah aku pastikan draftnya tersimpan.  * * * "Mau pesan yang mana teh?" tanya waiters Komunikasi Kafe dengan senyum dan lesung pipi kanan yang tidak pernah absen. "Milkshake strawbe...

Saat ini

Rijza Pada pertengahan tahun 2024. Gue menyadari bahwa usia gue akan bertambah satu angka lagi di belakang. Pola pikir dan life style gue akan berubah. Bahkan, lingkungan pun semoga dapat berubah.  Gue dan Shasa punya tujuan yang sama hari ini untuk merampungkan tugas-tugas kami. Kami duduk bersebrangan, berhadapan dengan laptop, ditemani dua cup Coffe Latte, dan sepiring kentang goreng.  Dua jam berlalu tanpa kata. Kami tenggelam dalam pikirian tanpa jeda. Untuk pertama kali, ketika kami duduk di Negra Coffe gue memecahkan keheningan 'Udah selesai, Sha?'  'Belum anjir' tukas Shasa. 2024 begitu. Dunia sudah semakin canggih, life style manusia di muka bumi membuat nagih. Katanya, kalau bicara tanpa tambahan anjir. Lo dianggap kurang asik, mainnya kurang jauh.  'Capek nggak, Sha?' tanya gue penasaran.  'Capek, masih banyak banget' Shasa mengeluh.  2024 begitu. Kami nggak akan bisa kembali pada masa-masa terindah menikmati hidup tanpa beban perkuliahan, tan...

Respon

Rijza Dalam seminggu ada lima hari untuk bekerja dan dua hari untuk berlibur. Tapi kadang pegawai BUMN bekerja sampai enam hari. Akhir pekannya, mereka gunakan untuk istirahat, nonton netflix, atau seneng-seneng bareng keluarga.  Seperti hari minggu ini. Gue rasa akan cerah. Dimulai dengan ajakan sarapan Nasi Uduk 21 di jalan Mayjend Sutoyo sampai mengklaim promo sepuluh ribu Hokben pakai QRIS Jenius. Begitu aja gue udah seneng.  'Nasi uduk dua, teh tawar hangat dua' ucap mbak Ning menata pesanan kami. 'Makasih ya mbak' ucap gue bersemangat.  'Ini Sha' gue mempersilahkan Shasa makan setelah naruh sendok yang udah di lap pakai tisu di piringnya. 'Asik, act of service' Shasa terhibur dengan perlakuan gue. Hati gue senyum. Padahal Shasa tahu love language dia bukan itu, melainkan gue lagi acting. Kami ngobrol panjang tentang keadaan. Tentang perasaan yang berlawanan dengan jalan pikiran. 'Gue udah bersikap biasa aja ya. Setiap gue tanya, dia selalu mere...

Gengsi Katanya

Rijza Sibuk itu alesan, semuanya tergantung prioritas. Sejak memasuki perkuliahan semester enam, setiap pagi gue selalu dihantui tugas-tugas yang begitu jelas.  Waktu main gue semakin terbatas, waktu nongkrong gue pun semakin sedikit. Sampe ketemu temen deket gue pun ngerasa canggung. Untung tingkat kepedean gue tinggi kalo udah sama mereka.  'Sha, lama nggak ketemu-pasti lu kangen gue kan' alis gue bergerak ke atas sebanyak dua kali sambil memperlihatkan senyum terpaksa gue.  'Apaan sih' jawabnya nyelonong.  Selalu begitu, kelihatan cuek tapi sebenernya dia kangen. Gue lari kecil menyusul dan narik tangan kiri dia buat gue gandeng.  'Pasti kangenlah. Ngga ada lagi kan tuh siang-siang yang chat "Sha, mau gue bawain apa. Sha, udah makan belum. Sha, lagi laper nggak". Ucap gue berirama iseng.  Pada akhirnya dia ketawa lepas dan kebiasaanya buat nabok gue udah muncul.  Hati gue senyum.  "Hahaha, pede banget sih lu. Kayak Boyen. Jza-jza' Selalu begitu...