Respon
Rijza
Dalam seminggu ada lima hari untuk bekerja dan dua hari untuk berlibur. Tapi kadang pegawai BUMN bekerja sampai enam hari. Akhir pekannya, mereka gunakan untuk istirahat, nonton netflix, atau seneng-seneng bareng keluarga.
Seperti hari minggu ini. Gue rasa akan cerah. Dimulai dengan ajakan sarapan Nasi Uduk 21 di jalan Mayjend Sutoyo sampai mengklaim promo sepuluh ribu Hokben pakai QRIS Jenius. Begitu aja gue udah seneng.
'Nasi uduk dua, teh tawar hangat dua' ucap mbak Ning menata pesanan kami. 'Makasih ya mbak' ucap gue bersemangat.
'Ini Sha' gue mempersilahkan Shasa makan setelah naruh sendok yang udah di lap pakai tisu di piringnya. 'Asik, act of service' Shasa terhibur dengan perlakuan gue. Hati gue senyum. Padahal Shasa tahu love language dia bukan itu, melainkan gue lagi acting.
Kami ngobrol panjang tentang keadaan. Tentang perasaan yang berlawanan dengan jalan pikiran. 'Gue udah bersikap biasa aja ya. Setiap gue tanya, dia selalu merespon dengan keras. Gue ga suka, gue lebih milih kita jadi orang asing aja. Udah cukup' kata Shasa bertubi-tubi tanpa berhenti mengunyah tempenya.
Gue respon dengan anggukan kepala. Gue pahami apa yang dia rasakan. Gue nggak minta Shasa untuk berdamai. Gue juga nggak menyarankan apa yang harus dia lakukan. Gue cukup mendengarkan tanpa menceramahi. 'Jangan minta maaf kalau lu nggak mau' sambil meminum teh.
Gue fikir.
Manusia kadang begitu. Mereka selalu tahu yang terbaik buat orang lain, tetapi tidak untuk mengontrol dirinya sendiri. Mereka lupa ada perasaan yang ga kasat. Yang mereka tahu 'sebagai temen yang baik, gue akan selalu mengarahkan lu pada hal-hal yang positif'
Padahal nggak begitu.
* * *
Mari ngobrol di kolom komentar frend 😁
Komentar
Posting Komentar