Tak Pernah Sampai

Sabtu malam di bulan Februari 2018. Isa mengajaku pergi ke tempat makan langganan kami, Nasi Goreng Pak Li namanya. 

Tepat di depan komplek perumahan Isa. Kami memesan satu nasi goreng pedas dan dua gelas air es. Isa tidak bermaksud untuk menambahkan bumbu romantisme pada hubungan kami. Isa bilang ‘Nasi goreng disini mahal, jadi cuma beli satu’. Setelah itu, aku mengangguk percaya tanpa meminta penjelasan.

Tapi, sekarang aku tahu bahwa ucapan Isa benar-benar tidak terbukti. Pada satu waktu, ketika aku sendirian berkunjung memesan satu porsi nasi goreng pedas. Yang datang nasi goreng pedas berukuran standard. Satu sisi bibirku terangkat keatas, memikirkan ‘Apalagi kalau bukan disebut romantis?’.

* * * 

Aku memilih untuk kembali ke kantor. Memang begitu rencana awalnya. Keluar membeli milkshake, lalu lanjut bekerja. Pertemuan tidak terduga dengan Isa membuatku tambah kesal. Aku seharusnya tidak bersikap seperti tadi. 'Kenapa tangan gue seolah nyambut dia? lo harusnya udah jadi cewek yang dingin nan misterius, La' gumamku penuh penyesalan. 

Aku melanjutkan pekerjaan sambil menyesap milkshake strawberry dengan perlahan. Video-video yang lima belas menit lalu masih berantakan, mulai tersusun rapi.

Sebagai Video Editor yang bekerja untuk orang lain, aku harus bersikap profesional. Tidak melibatkan perasaan dalam pekerjaan dan tidak mementingkan keinginan diri sendiri. Kami semua bekerja untuk mencapai target yang ditentukan perusahaan sebagai personal dan tim.  

Instagram Spesialist Team. Aku bergabung dengan mereka. Terhitung sudah dua minggu di sini, aku belum juga terbiasa. Dan sekarang, aku harus bekerja keras menyelamatkan pekerjaanku. Di tengah padatnya to do list yang menumpuk. Datang job baru yang tidak terprediksi. Saat itu, naskah video yang dibuat oleh konseptor project tidak didiskusikan dengan baik bersama editor. Tetapi, tetap dituntut untuk merampungkan videonya pada pukul empat sore. 

Agak berat rasanya. Tapi aku sadar bahwa "hidup itu nggak semua tentang apa yang kamu inginkan. Kita pasti bertemu dengan penolakan, dengan hal yang menyimpang, bahkan sesuatu yang dadakan." Sama halnya pertemuanku dengan Isa. Pukul sebelas, siang tadi. 

Hubungan pertemanan kami dimulai saat Isa menolongku di depan Indomart. ‘Nih, pakai uang gue’ ucap seseorang dari belakang punggungku menyodorkan uang dua ribu. ‘Besok gue ganti di kelas’ ucapku terbata. Setelahnya, ia berlalu pergi dengan sepeda BMX hitam miliknya. 

Kami adalah teman satu kelas, tapi tidak pernah berkomunikasi. Isa adalah laki-laki yang jarang bersosialisasi. Pintar matematika dan jago olahraga. Alisnya tebal, tatapannya tajam, mancung, dan punya lesung di pipi kiri. Kebiasaanya adalah membuat heboh pada jam istirahat, terlihat asik saat bersama teman circle-nya, terkesan misterius jika sendirian. Isa adalah laki-laki yang menarik dimata perempuan, menurutku begitu.

* * *

"Yes, selesai" 

Layar PC menunjukkan 'Video has been saved to the device'. Tepat pada pukul empat sore, videonya sudah di chek oleh bu Tia. 

Aku menghembuskan nafas lega, setelah membaca pesan "kerja bagus, Shei" yang dikirim oleh tim Social Media Spesialist. Aku tersenyum penuh semangat. Sampai akhirnya, bayangan Isa lagi-lagi memenuhi pikiranku. 

Setengah jam berlalu setelah jam pulang kantor. Aku hanya beridiri, berkacak pinggang dan menatap kosong jendela. Aku masih berfikir gimana caranya supaya nggak ketemu dia lagi. 

* * *

Sampai sini masih belum jumpa sama Isa lagi yaa😂

Mari ngobrol di kolom komentar frend☺ 




Komentar

  1. Wiwwww udh up lagi ni kak😍 jadi kecanduan baca ini nih kak😂

    BalasHapus
  2. Aaaa seru bgt cerpen nya

    BalasHapus

Posting Komentar