Prolog: Tak Pernah Sampai

2024 adalah tahun perubahan. Tahun di mana segala informasi bisa didapat melalui internet. Tahun di mana segala aktivitas bisa dilakukan melalui ponsel. Bisa belajar dengan tetap di rumah, bisa bekerja dengan pakaian casual dan tentu belum mandi.

Berbeda denganku, 2024 adalah tahun sibuk. Sebagai pegawai baru, aku harus menunjukan performa terbaik-ku. Bukan untuk pencitraan, melainkan mencoba untuk menikmati pekerjaan yang didambakan sejak menempati bangku sekolahan.

Aku seorang pegawai bank yang duduk di kursi pemasaran. 

Ditengah-tengah menumpuknya video yang masih berantakan. Sejenak, aku mengambil nafas dalam. Untuk mengeluh. Tenggorokanku kering tapi tidak sariwan. 'Ah, gue butuh milkshake strawberry' aku meracau mengusap wajahku, lalu bergegas mematikan komputer yang sebelumnya sudah aku pastikan draftnya tersimpan. 

* * *

"Mau pesan yang mana teh?" tanya waiters Komunikasi Kafe dengan senyum dan lesung pipi kanan yang tidak pernah absen. "Milkshake strawberry satu" ucapku. "Milkshake strawberry satu, atas nama?". "Sheila" jawabku sekaligus menyelesaikan pembayaran. "Ditunggu sebentar ya teh, nanti dipanggil" ucapnya lembut. 

Komunikasi Kafe adalah coffeshop yang cukup popular di kota Karawang. Lokasinya di pinggiran jalan ruko Kertabumi, dua puluh meter dari tempat kerjaku.

* * *

“Milkshake Strawberry atas nama Sheila” 

Aku menutup layar handphone dan berjalan ke arah meja barista. "Kamu, masih sama ya La", tubuhku sekejap berhenti bergerak dengan pelan aku mengangkat pandanganku. ‘"Isa" teriakku tertahan. Isa hanya merespon dengan jari telunjuk yang ia letakan di bibir sambil nahan senyum. Mulutku terbuka lebar, sedetik kemudian aku merentangkan kedua tanganku, itu adalah reaksi spontan pada saat manusia bertemu teman lamanya. Namun, Isa hanya menggeleng, menghendikan bahu, dan berkata "Pulang kerja jam berapa? Kita nonton film gimana?" ajak Isa sambil memberikanku Milkshake Strawberry. Aku mencebikan bibir bawahku menahan kesal karena penolakan Isa "Nggak mau" menatapnya tajam dan mengambil Milkshake pesananku. 

Aku berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Isa yang sedang bekerja. Aku tentu paham situasi yang sedang terjadi. Aku yakin, kalau saja Isa tidak sedang bekerja, pasti pelukanku tidak diabaikan seperti tadi. 

Tapi, aku tetap kesal. Dengan percaya diri, Isa tampak tidak berniat untuk menunjukan rasa bersalahnya. Setelah tujuh tahun yang lalu. Ia meninggalkanku. 

* * *

Sampai jumpa di episode berikutnya! 

Mari ngobrol di kolom komentar frend☺ 









Komentar

  1. kelazzz🔥🔥

    BalasHapus
  2. Widih akhirnya debut nihhh bosss

    BalasHapus
  3. ditunggu eps selanjutnya kak 🔥🔥🔥

    BalasHapus
  4. Dari Prolog udah keliatan seru, ditunggu kelanjutannya ✨🤗

    BalasHapus
  5. Cemungut eakk🤩💅
    Ditunggu updatenya 😌

    BalasHapus

Posting Komentar